Kamis, 02 Maret 2017

Hindu dalam Aliran Naturalisme



Hidup Manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur dan natur itu dari Sang Hyang Widhi Wasa. Akan tetapi, bagi yang tidak percaya pada Brahman, natur itulah yang tertinggi. Hyang Widhi menciptakan alam semesta lengkap dengan hukum-hukumnya, secara mutlak dikuasai Hyang Widhi. Manusia sebagai makluk tidak mampu menguasai alam (macrokosmos) ini karena manusia itu lemah. Manusia hanya hanya dapat berusaha/berencana, tetapi yang menentukan adalah Tuhan.
Aliran naturalism berintikan spekulasi, mungkin ada Brahman mungkin juga tidak. Lalu, mana yang benar? Hal yang benar adalah “keyakinan”. Jika kita yakin Brahman itu ada, kita katakan Brahman itu ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan Brahman itu tidak ada, yang ada hanyalah natur. Dalam pandangan hindu, keyakinan yang harus dimiliki oleh penganutnya adalah Panca Sradha, Panca artinya Lima dan Sradha artinya keyakinan. Jadi panca sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat hindu. Adapun lima keyakinan tersebut yang dimaksud adalah :
1)      Brahman, artinya percaya akan adanya Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Esa
2)      Atman, artinya percaya akan adanya Sang Hyang Atman
3)      Karma, artinya percaya akan adanya hukum karma phala
4)      Samsara/’punarbhawa, artinya percaya akan adanya kelahiran kembali
5)      Moksa, artinya percaya akan adanya kebahagiaan rohani (kebebasan hakiki).
Berdasarkan dengan lima keyakinan tersebut umat hindu mencari tuhan dengan jalan yang telah ditentukan dalam kitab suci wedha bak kompas yang mengarahkan orang-orang tersesat menuju jalan pulang (kedamaian).
            Brahman merupakan kekuasaan tertinggi dan manusia adalah ciptaan Tuhan/Brahman. Oleh karena itu, manusia mengabdi kepada Hyang Widhi berdasarkan ajaran Tuhan, yaitu agama/Sanatana Dharma yang diwahyukan dan dibukukan dalam bentuk Kitab Suci Wedha.
            Ajaran agama ada dua macam yaitu :
1.      Ajaran Agama yang Dogmatik, yang disampaikan oleh Tuhan/Brahman melalui para Rsi. Ajaran Agama yang dogmatik bersifat mutlak (absolute), terdapat dalam kitab suci Wedha, sifatnya tetap, tidak berubah – ubah menurut waktu dan tempat.
2.      Ajaran Agama dari pemuka – pemuka agama, yaitu sebagai hasil hasil pemikiran manusia, sifatnya relative (terbatas). Ajaran agama dari pemuka – pemuka agama termasuk dalam kebudayaan, terdapat dalam buku – buku agama yang ditulis oleh pemuka – pemuka agama. Sifatnya dapat berubah –ubah sesuai denga perkembangan Zaman.
Tentunya umat hindu mempercayai bahwa Brahman merupakan kekuatan tertinggi yang mengatur alam semesta ini. Dalam mengatur alam semesta ini umat hindu percaya dengan konsep ketuhanan yang Saguna (Jamak/Para Dewa) dan Nirguna (Tunggal/Brahman). Bahwa untuk menjaga dan mengatur alam ini beliau menempatkan diri dalam bentuk saguna, berdasarkan hal tersebut lah umat hindu mengenal dengan banyak Dewa yang paling lazim didengar adalah Tri Murti yaitu Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (Pralina). Selain konsep Ketuhanan saguna juga terdapat Konsep Ketuhanan Nirguna, yang diperjelas dalam bait sloka dan mantram gayatri sebagai berikut :
Ekam eva advityam Brahman yang berarti Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.
eko narayana na dwityo’sti kascit yang berarti hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.
            Dalam aliran Naturalisme mengajarkan bahwa terdapat kekuatan besar yang mengatur segala yang yang ada. Apabila naturalisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup, keyakinan manusia itu bermula dari Brahman/Tuhan. Jadi. Pandangan hidup dilandasi oleh ajaran Tuhan menurut agama yang diturukan-Nya. Manusia yakin bahwa kebajikan itu direstui oleh Tuhan. Pandangan hidup yang dilandasi oleh keyakinan bahwa Tuhanlah kekuasaan tertinggi, yeng menentukan segala-galanya, disebut pandangan hidup relegius.
            Sebaliknya, jika manusia tidak mengakui adanya Tuhan, natur adalah kekuatan tertinggi, maka keyakinannya itu bermula dari kekuatan natur. Pandangan hidupnya dilandasi oleh kekuatan Natur. Pandangan hidup ini disebut pandangan hidup komunisme.

Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Akan tetapi, Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari, dan mempertahankan kekuasaan, melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha, yaitu dalam Santi Parwal LXIII, hal 147, sebagai berikut:
“manakala politik telah sirna, veda pun sirna pula, semua aturan hidup hilang musnah, semua kewajiban manusia terabaikan. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan, pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan, pada politiklah semua dunia terpusatkan”.
Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa:
“ketika tujuan hidup manusia – dharma, artha, kama, dan moksa semakin jauh. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau, maka pada politiklah semua berlindung, pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan, pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan, dan pada politiklah dunia terpusatkan”
Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat, yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. Dharma adalah hukum, kewajiban, dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia, dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah).
Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan, selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat), dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa “apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja”. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat, bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi, kemuliaan adalah pasti (“sang sura menanging ranaggana, mamukti sukha wibawa, bogha wiryawan”).